CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Digital clock

Selasa, 30 April 2013

Surat Al-Ashr


BAB I
PENDAHULUAN
            Segala puji bagi Allah swt yang telah menjadikan sebab untuk segala sesuatu, Zat yang telah menurunkan Kitab yang penuh dengan keajaiban kepada seorang hamba-Nya. Kitab yang di dalamnya terdapat hikmah dan informasi tentang segala sesuatu.
            Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw, manusia termula baik non-Arab maupun Arab. Manusia yang keluarga dan nasabnya suci. Semoga shalawat dan salam juga selalu tercurah kepada para sahabat dan keluarga beliau yang mulia.
Mengenai Istimewanya kitab suci yang Allah turunkan kepada umat muslim penulis mencoba mengkaji tentang Surah Al-Ashr, semoga bisa memperluas pengetahuan pembaca dalam hal ini.
            Surah ini adalah surat Makiyyah, demikian pendapat ulama kecuali segelintir dari mereka. Namanya surat Al-ashr telah dikenal sejak zaman Nabi saw dan para sahabat beliau. Diriwayatkan bahwa sahabat-sahabat Rasululloh tidak berpisah kecuali setiap mereka membacakan surat Al-ashr kepada temannya (HR ath-Thabrani melalui Ubaidillah Ibn Hushain).
            Tema utamanya adalah tentang pentingnya memanfaatkan waktu dan mengisinya dengan aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebaab jika tidak, kerugian dan kecelakaanlah yang menanti mereka.
            Imam Syafi’i menilai surah ini sebagai salah satu surat yang paling sempurna petunjuknya. Menurut beliau : “Seandainya umat Islam memikirkan kandungan surat ini, niscaya (petunjuk-petunjuknya) ,mencukupi mereka”.
            Surat ini merupakan surat ke-13 dari segi perurutan turunnya. Ia turun sesudah Al Nasyrah dan sesudah surat Al-Adiyat. Ayatnya disepakati berjumlah 3 ayat.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teks ayat, makna mufrodat dan terjemahnya
                        sura 103
Kata وَالْعَصْرِ : Huruf Wâw tersebut adalah Wâw al-Qasam (huruf yang bermuatan sumpah)
Sedangkan kata al-‘Ashr artinya masa dimana terjadinya gerak-gerik manusia.
Kataاْلإِنسَان : maksudnya adalah semua individu manusia. Al-insnl manusia terambil dari akar kata yang dapat berarti gerak atau dinamisme, lupa, merasa bahagia (senang). Ketiga arti ini menggambarkan sebagian dari sifat serta ciri khas manusia. Ia bergerak bahkan seyogianya memiliki dinamisme, ia juga memiliki sifat lupa atau melupakan kesaalahan-kesalahan orang lain serta ia pun merasa bahagia dan senang bila bertemu dengan jenisnya atau selalu memberi kesenaangan dan kebahagiaan kepada diri dan makhluk-makhluk lainnya.
Kata (لفى) la fi adalah gabungan dari huruf lam yang menyiratkan makna sumpah dan huruf fi yang mengandunga makna waddah atau tempat. Dengan kata tersebut, tergambar bahwa seluruh totslitas manusia berada di dalam satu waadah kerugian. Kerugian seakan-akan menjadi satu tempat atau wadah dan manusia berada serta diliputi oleh wadah tersebut.
Jika demikian, waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak di isi maka kita merugi, bahkan kalaupun di isi tetapi dengan hal-hal yang negatif maka manusia pun diliputi oleh kerugian. Disinalah terlihat kaitan antara ayat pertama dan kedua dan dari sini pula ditemukan sekian banyak hadist Nabi saw yang memperingati manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. “Dua nikmat yang sering dilupakan (di sia-siakan) banyak manusia, kesehatan dan waktu”.
Kalimat إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : Allah Ta’ala menjelaskan bahwa semua manusia berada dalam kerugian total kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Jadi mereka mengoleksi antara pembenaran dan iman terhadap hal yang diperintahkan Allah agar beriman dengannya. Namun, iman tidak akan dapat terealisasi tanpa keberadaan ilmu yang merupakan cabang darinya dimana hanya bisa terlengkapi dengannya. Sedangkan amal shalih mencakup semua perbuatan baik, yang zhahir maupun bathin, wajib maupun Mustahabb (dianjurkan) yang terkait dengan hak-hak Allah dan hak makhluk-Nya.
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ : mereka saling nasehat-menasehati, berjanji, mewasiatkan satu sama lain, menggalakkan dan mensugesti untuk selalu beriman dan beramal shalih.
Kalimat وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ : mereka saling berwasiat satu sama lain agar bersabar berikut dengan semua jenis-jenisnya, yaitu: sabar di dalam berbuat keta’atan kepada Allah, sabar untuk tidak berbuat maksiat kepada-Nya dan sabar terhadap takdir-takdir Allah yang tidak mengenakkannya.
Di dalam surat yang agung ini jelaslah bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang memiliki empat kualifikasi, yaitu iman, amal shalih, nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. Dengan dua hal pertama (iman dan amal shalih), seorang hamba dapat melengkapi dirinya sendiri sedangkan dengan dua hal berikutnya dia dapat melengkapi orang lain dan dengan melengkapi keempat-empatnya, maka jadilah seorang hamba orang yang terhindar dari kerugian dengan meraih keuntungan yang besar. Inilah yang tentunya akan selalu diupayakan oleh seorang insan yang berakal di dalam kehidupannya.
B.     Kaidah-kaidah (hukum) ilmu Tajwid dari semua kalimat / katanya secara lengkap
والعصر : Terdapat alif lam qomariah, karena alif lam bertemu dengan salah satu huruf qamariah (ء ب غ ح ج ك و خ ف ع ق ي م ه )  sehingga alif lam dibaca jelas/terang.
ان         :  Gunnah
 نالانسا : Terdapat Mad Tabi’i karena alif sukun setelah harokat fathah.
لفي        : Mad Tabi’i karena terdapat ya sukun setelah harokat kasroh
 ينالذ       : Mad Tabi’i karena terdapat ya sukun setelah harokat kasroh
امنوا      : Terdapat mad tabi’i dan mad badal, mad badal karena hamzah yang berharakat fathah. Panjang bacannya satu alif/dua harakat. Mad tabi’i karena terdapat wau sukun setelah dhammah.
وعملوا    : Mad tabi’i, karena terdapat wau sukun setelah dhammah.
الصلحت : Terdapat Alif lam Syamsiah, Mad badal. Karena ada alif lam yang bertemu salah satu huruf samsiyyah (ط ث ص ر ت ض ذ ن د س ظ ز ش ل) dan harus dibaca samar. Mad badal karena hamzah yang berharakat fathah. Panjang bacannya satu alif/dua harakat.
وتوا       : Mad tabi’i karena terdapat alif sukun setelah harokat fathah.
صوا با لحق : Terdapat Mad Layyin dan alif lam qomariah, mad layyin karena wau mati setelah fathah. Panjangnya satu alif/dua harakat. Alif lam qamariah karena terdapat alif lam bertemu salah satu huruf qamariah, sehingga alif lam dibaca jelas/terang. Huruf alif lam qomariah yaitu
(ء ب غ ح ج ك و خ ف ع ق ي م ه).
با لصبر  : Alim lam qamariah, karena terdapat alif lam bertemu salah satu huruf qamariah (ء ب غ ح ج ك و خ ف ع ق ي م ه ) sehingga alif lam dibaca jelas/terang.
C.    Asbabun-Nuzul Surat
1.      Demi masa. (QS. 103:1)
والعصر
Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah dengan masa yang terjadi di dalamnya bermacam-macam kejadian dan pengalaman yang menjadi bukti atas kekuasaan Allah yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi dan Ilmu-Nya yang sangat luas. Perubahan-perubahan besar yang terjadi pada masa itu sendiri, seperti pergantian siang dengan malam yang terus-menerus, habisnya umur manusia dan sebagainya merupakan tanda ke-Agungan Allah SWT. Dalam ayat lain yang sama maksudnya, Allah berfirman :
ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر
Artinya:
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. (Q.S. Fussilat: 37) Apa yang dialami manusia dalam masa itu dari senang dan susah, miskin dan kaya, senggang dan sibuk, suka dan duka dan lain-lain yang menunjukkan secara gamblang bahwa bagi alam semesta ini ada pencipta dan pengaturnya. Dialah Tuhan yang harus disembah dan hanya kepada-Nya kita memohon untuk menolak bahaya dan menarik manfaat, sedangkan orang-orang kafir menghubungkan peristiwa-peristiwa tersebut hanya kepada suatu masa saja, sehingga mereka berkata, bila ditimpa oleh sesuatu bencana bahwa ini hanya kemauan alam saja. Tetapi Allah menjelaskan bahwa masa itu adalah salah satu makhluk-Nya dan di dalamnya terjadi bermacam-macam kejadian, kejahatan dan kebaikan. Bila seseorang ditimpa musibah adalah karena akibat tindakannya, masa tidak campur tangan dengan terjadinya musibah itu.
2.      Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,(QS. 103:2)
الا نسا ن لفي خسران
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa manusia sebagai makhluk Allah sungguh secara keseluruhan berada dalam kerugian. Perbuatan buruk manusia adalah merupakan sumber kecelakaannya yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan, bukan masanya atau tempat. Dosa seseorang terhadap Tuhannya yang memberi nikmat tak terkira kepadanya adalah suatu pelanggaran yang tak ada bandingannya sehingga merugikan dirinya.
3.      Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.(QS. 103:3)
الا الذ ين امنوا وعملوا الصلحت وتواصوابا لحق وتوا صوابا لصبر
Dalam ayat ini Allah menjelaskan agar manusia tidak merugi hidupnya ia harus beriman kepada Allah, melaksanakan ibadat sebagaimana yang diperintahkannya, berbuat baik untuk dirinya sendiri dan berusaha menimbulkan manfaat kepada orang lain. Di samping beriman dan beramal saleh mereka saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan saling nasihat-menasihati pula supaya tetap berlaku sabar, menjauhi perbuatan maksiat yang Setiap orang cenderung kepadanya, karena dorongan hawa nafsunya.
D.    Penafsiran para mufasir
Ada perbedaan di antara para ahli tafsir dalam mengartikan ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa ‘Ashr itu adalah waktu ashar, sebaliknya dari waktu dhuha. Waktu dhuha ialah seperempat waktu yang pertama sedangkan waktu ashar adalah seperempat waktu yang terakhir. Sebagian lagi ber-pendapat bahwa ‘Ashr di situ berarti masa, misalnya ‘Ashrush shahãbah (masa sahabat), ‘Ashrur rasul (masa Rasul). Al-’Ashr dalam Bahasa Arab biasanya dipakai untuk menunjukkan babakan atau periodisasi, misalnya ‘Ashrul hadid yang berarti zaman besi di dalam sejarah.
Menurut sebagian besar mufasir, Wal-’Ashr itu menunjukkan zaman Rasul. Allah bersumpah dengan zaman Rasul. Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa sebetulnya zaman itu, seperti juga makan (tempat), tidak ada yang baik atau jelek. Tidak ada waktu yang mulia atau waktu yang hina. Tidak ada tempat yang suci dan tidak ada pula tempat yang kotor. Seluruh waktu sama derajatnya dan seluruh tempat juga sama derajatnya. Lalu apa yang menyebabkan satu waktu mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu yang lain? Hal itu karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan waktu itu. Satu tempat juga menjadi lebih mulia dari tempat yang lainnya bukan karena tempatnya itu, melainkan karena tempat itu berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa.
Ar-Razi menulis dalam tafsirnya : “dalam surat ini terkandung peringatan yang keras. Karena sebagian manusia dianggap rugilah adanya, kecuali barang siapa yang berpegang dengan keempatnya ini. Yaitu : Iman, amal salih, pesan-memesan kepada kebenaran dan pesan-memesan kepada kesabaran. Itu menunjukan bahwa keselamatan hidup bergantung kepada keempatnya, jangan ada yang ditinggal. Dan dapat juga diambil kesimpulan dari surat ini bahwa mencari selamat bukanlah untuk diri sendiri saaja, melainkan juga disuruh menyampaikan atau sampai-menyampaikan kepada orang lain.”
Menurut keterangan Ibnu Katsir pula di dalam tafsirnya “suatu keterangan dari ath-Tabrani yang ia terima dari jalam Hammad bin Salmah, dari Tsabit bin Ubaidillah bin Hashn : kalau dua orang sahabat-sahabat Rasululloh saw bertemu, belumlah mereka berpisah melaainkan salah seorang diantara mereka membaca surah al-ashr ini terlebih dahulu, barulah mereka mengucapkan salam tanda berpisah”.
Imam Syafi’i berkata : “kalau manusia seanteronya sudi merenungkan Surat ini, sudah cukuplah itu baginya”.
Iman, amal saleh dan ilmupun masih belum memadai. Memang, ada orang yang merasa cukup serta puas dengan ketiganya, tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan itu dapat menjerumuskannya, ada pula yang merasa jenuh. Oleh sebab itu, ia perlu selalu menerima nasihat agar tabah, sabar, sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman, amal dan pengetahuannya. Demikianlah surat Al-Ashr memberi petunjuk bagi manusia.  
E.     Analisis Isi Kandungan Surat
Tujuh keutamaan kandungaan surat Al-Ashr
Sebagai umat muslim, masih banyak yang jarang mengetahui isi kandungan surat Al-Ashr. Untuk itu saya akan memaparkan tujuh keutamaan surat Al-Ashr diantaranya :
1.      Jaga waktu, Ajaran Islam sangat menghargai waktu. Allah Swt. Sendiri berkali-kali bersumpah dalam al-Qur’an berkaitan dengan waktu. “ Wal ‘Ashri ( demi waktu)”, Wadh-Dhuha (demi waktu dhuha)”, Wal-Lail (demi waktu malam) dll. Maka, sangat beruntunglah orang-orang yang mengisi waktunya dengan efektif, yaitu orang-orang yang mempersembahkan yang terbaik dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, “ Pada setiap fajar ada dua malaikat yang berseru, “wahai anak Adam aku adalah hari yang baru, dan aku datang untuk menyaksikan amalan kamu. Oleh karena sebab itu, manfaatkanlah aku sebaik-baiknya. Karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari pengadilan ( HR. Turmudzi).” Ada pepatah mengatakan waktu adalah uang. Mengingat akan pentingnya waktu maka kita dituntut untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.hadits Rosul yang artinya : Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, karena jika seandainya hari ini waktu kita sama dengan hari kemarin maka termasuk orang yang merugi. Bahkan . Rhoma Irama dengan mengutip hadits Rosul mengatakan : Ingat lima perkara sebelum lima perkara : hidup sebelum matimu, masa muda sebelum masa tuamu, Kaya sebelum miskin, sibuk sebelum senggang, sehat sebelum sakitmu.
2.      Pelajari manusia, coba kita renungkan diri masing-masing. Mengapa banyak diantara manusia yang tidak bersyukur akan ciptaan-Nya. Diantaranya adalah karena mereka tidak tahu akan dirinya, siapa yang menciptakan, untuk apa diciptakan, dan kepada siapa mereka dikembalikan. Dengan mengenal diri maka kita akan mengenal Tuhannya, sesuai sabda Rosulullah Saw, Artinya : barang siapa mengenal dirinya maka akan mengenal Tuhannya. Pendidikan diri dapat dilalui dengan keterbukaan diri dan berbicara dengan diri. Sungguh Allah selalu mengetahui diskusi diri kita. Kebenaran yang sejati ada di sisi Allah, sedangkan pada manusia ada kecendrungan baik dan buruk.
3.      Hindari kehancuran, setiap manusia semua menginginkan untuk jauh dari jurang kehancuran sebaliknya mereka ingin kehidupannya selamat dan bahagia dunia dan akhirat. Tetapi sedikit orang yang berusaha mencari jalan untuk jauh dari jurang kehancuran, maka rugilah mereka.
4.      Dasari hidup dengan iman, Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan perbuatan. Iman bukanlah bentuk barang yang nyata, tetapi iman adalah abstrak tidak bisa dilihat. Namun contoh riil dari buahnya iman adalah seorang yang pandai menjaga diri dari kemaksiatan dan kejelekan. Seseorang yang memiliki iman yang kuat bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Oleh karena itu hidup kita supaya selamat dunia dan akhirat harus didasari dengan iman.
5.      Isilah kehidupan dengan amal yang sholeh, amal yang sholeh adalah amal atau perbuatan yang diperintahkan oleh Allah melalui Rosulnya. Adapun contoh dari amal sholeh adalah melaksanakan sholat lima waktu setiap hari, mengikuti jama’ah pengajian dimana pun berada, memberiikan sodaqah bagi orang yang membutuhkan dan lain sebagainya.
6.      Tegakan kebenaran, Menegakan kebenaran tidak semudah membalikan telapak tangan, tetapi menegakan kebenaran perlu persiapan yang matang yakni dengan ilmu yang banyak, iman yang kuat, mental yang sehat dan lain sebagainya. Alangkah baiknya kita mampu menegakan untuk diri kita sendiri dan keluarga terlebih dahulu kemudian orang lain sesuai dengan perintah Allah SWT dala surat At-Tahrim ayat 6, Artinya : Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Banyak sebahagian orang yang menentang kebenaran, karena mereka tidak tahu akan dirinya yang sebenarnya. Dengan ketidak tahuan itu mereka tidak mau tahu akan kebenaran dari Allah. Semoga mereka yang menentang kebenaran diberikan hidayah oleh Allah SWT, sehingga mau mengikuti ajaran Rosulullah Saw. Amiin.
7.      Hadapi kehidupan dengan sabar. Sebesar masalah datang menghalang, maka apabila dihadapi dengan hati yang sabar maka masalahpun dengan sendirinya akan teratasi.
Allah akan senantiasa dengan orang-orang yang sabar, artinya : Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar. Tiada alasan bagi kita semua untuk menyia-nyiakan setiap detik kesempatan yang telah diberikan Allah.
F.     Proses pembelajaran surat tersebut dengan baik sehingga mencapai tujuan ! (jelaskan tujuan, pendekatan, metode, media dan evaluasinya).
Tujuan mempelajari surat al-ashr bagi siswa untuk lebih memahami dan mengerti surat Al-Ashr. Mampu mengartikan surah Al Ashr dengan benar. Mampu menulis kata dan kalimat surah Al Ashr dengan benar. Mampu menyebutkan sekaligus memahami isi pokok surah Al Ashr.
Pendekatan yang dilakukan dengan pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centre) karena siswa khusunya di kelas rendah masih membutuhkan banyak bimbingan dari guru atau orang dewasa yang pengetahuan dan pengalamannya lebih dari mereka.
Metode yang digunakan yaitu dengan diskusi antara guru dan siswa, atau siswa dengan siswa dengan cara berkelompok juga bisa membantu meringankan siswa dalam belajar tentang materi surat al-Ashr.
Medianya bisa dengan penayangan-penayangan video tentang kisah yang terdapat dalam surat tersebut, atau dengan cara guru menuliskan langsung di papan tulis surat al-Ashr dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid dan penulisan yang baik dan benar.
Untuk mengevaluasi hasil pembelajaran surat al-Ashr bisa dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru kepada siswanya. Bisa juga dengan memberikan tugas yang harus dikerjakan di rumah sehingga diketahui sejauh mana hasil pembelajaran yang telah di laksanakan.








BAB III
PENUTUP
Surah ini secara keseluruhan berpesan agar seseorang tidak hanya mengaandalkan imannya saja tetapi juga amal salehnya bahkan amel saleh pun bersama iman belum cukup. Amal saleh bukaan asal beraamal. Iman dan amal saleh tanpa ilmu belum cukup, sungguh indah dan tepat gambaran yang diberikan oleh Murtadha Muthahhari tentang keterkaitan antara iman dan ilmu. Menurutnya : “ilmu memberi kekuatan yang menerangi jalan kitadan iman menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiwa kita. Ilmu menciptakan alat-alat produksi dan akselerasi, sedang iman menetapkan haluan yang dituju serta memelihara kehendak yang suci. Ilmu adalah revolusi eksternal, sedang iman adalah revolusi internal. Ilmu dan iman keduanya merupakan kekuatan, kekuatan ilmu terpisah sedang kekuatan iman menyatu, keduanya adalah keindahan dan hiasan, ilmu adalah keindahan akal, sedang iman keindahan jiwa”.
Iman, amal saleh dan ilmupun masih belum memadai. Memang, ada orang yang merasa cukup serta puas dengan ketiganya, tetapi ia tidak sadar bahwa kepuasan itu dapat menjerumuskannya, ada pula yang merasa jenuh. Oleh sebab itu, ia perlu selalu menerima nasihat agar tabah, sabar, sambil terus bertahan bahkan meningkatkan iman, amal dan pengetahuannya. Demikianlah surat Al-Ashr memberi petunjuk bagi manusia. 








DAFTAR PUSTAKA
M. Quraish Shihab. 2009. Tafsir Al-Misbah. Lentera Hati. Jakarta.
Prof. Hamka. 2007. Tafsir Al-Azhar. Pustaka Panjimas. Jakarta.
http://asifauqolbi-islamiblog9-aburidza.blogspot.com/2011/07/tafsir-surat-al-ashar.html
http://edukasi.kompasiana.com/2012/10/26/tujuh-keutamaan-kandungan-surat-al-ashr-503779.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar